Hidup memang harus dibuat penuh warna agar terlihat dan terasa indah. Lihatlah warna-warna bunga yang ada yang telah tercipta untuk mewarnai dunia ini, indah bukan? Merah, putih, biru, dan aneka warna yang lain.
Setiap warna adalah bagian dari cerita hidup kita yang akan menghiasi kehidupan ini. Setiap dari kita tentunya mempunyai warna kehidupan yang berbeda meskipun beberapa diantaranya ada yang sama. Tapi percayalah kesamaan itu bukan hal yang direncanakan sebelumnya apabila kita melihat dari sisi manusia.
Terasa keindahan terpancar dari warna-warni yang mekar pada pohon kehidupan ini. Setiap episode pada pohon kehidupan memiliki warna yang tersendiri. Tapi harus diingat munculnya warna-warna dalah kehidupan ini adalah hasil coretan tangan kita. Tidak ada istilah kebetulan dalam hidup ini, tidak percaya? Adakah seorang pelukis yang tidak sengaja membuat lukisan yang bernilai maha karya? Tidak, bahkan seorang Leonardo Da Vinci pun melukis Monalisa dengan kesengajaan dan kesungguhan untuk mengekspresikan rautan hatinya.
Hidup ibarat melukis. Kanvas putih yang masih kosong adalah lembar baru kehidupan kita yang dimulai ketika kita bisa menghirup udara di luar rahim ibu dan menjadi penghuni bumi yang baru. Dari situlah kegiatan melukis kita dimulai. Awalnya kita dibimbing oleh orang tua kita harus menggambar apa atau mau diapakan lukisan buatan kita.
Seiring waktu, kita dilepas dari “tata”an orang tua dan dibiarkan berkreasi dengan pikiran, imajinasi, dan segenap kemampuan kita dalam melukis, dengan harapan kita bisa menjadi pelukis handal. “Melukis” tidak hanya dinilai dari bagus atau tidaknya karya, mahal atau tidaknya bahan yang digunakan, tapi juga menyangkut seni, seni kehidupan.
Bagaimana kita melukis sama saja dengan bagaimana kita memandang kehidupan kita, menentukan setiap tindakan , memaknai kehidupan itu sendiri karena hidup penuh makna. Bisa kita renungkan, semua karya lukisan yang ada, baik dari pelukis terkenal, pelukis amatir, maupun dari orang yang sama sekali tak punya bakat seni tapi tetap mencoba membuat lukisan, semuanya pasti punya arti, meskipun kadang gambarannya abstrak, tak jelas atau sekedar corat-coret.
Begitu pula dengan hidup dan kehidupan kita. Kita semua punya hak untuk menjadikan hidup kita seperti apa, lukisan hidup apa yang kita buat, warna apa yang kita toreh pada kanvas kiat. Semua tergantung pada diri kita sendiri, hingga nanti, ketika tak sanggup lagi melukis di atas kanvas, ketika tangan tak mampu lagi memegang kuas, ketika mata tak mampu lagi meneliti setiap warna, atau mungkin ketika kita tak lagi mendapat kesempatan untuk melukis, orang-orang bisa melihat betapa indahnya lukisan kita, betapa bermaknanya karya kita. Sekarang apa yang sedang kita lukis pada kanvas kita?